poojetz >> Puji Astuti

perkataan pertama adalah yang keluar dari hati

Si Kabayan Jadi Sufi


Membaca Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan karya Jakob Sumardjo membuat saya teringat kembali kepada cerita-cerita tentang Abu Nawas, yang juga tak kalah paradoksnya. Di mata Jakob yang keturunan Jawa, Si Kabayan bukan hanya sosok konyol dan malas, melainkan juga seorang yang cerdas, bijak, dan religius.

Jakob telah mengangkat derajat Si Kabayan yang dipahami masyarakat luas sebagai pelawak ke maqom  sebenarnya, yakni seorang mursyid yang sudah mencapai teu nanaon ku nanaon. Selain juga, seorang guru sufi yang memberikan pencerahan bukan lewat kata-kata tinggi yang susah dimengerti, melainkan lewat perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana, yang sifatnya jenaka, santai namun bermakna sangat dalam.

Buku yang menarik ini tampaknya merupakan kelanjutan dari buku-buku Jakob sebelumnya seperti Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda dan Khazanah Pantun Sunda, yang merupakan telaah cemerlang atas cerita-cerita rakyat Sunda. Lewat buku-bukunya itu, Jakob berhasil menarik benang merah antara budaya peninggalan Hindu-Buddha, masyarakat pedesaan yang berkarakter agraris dan napas keislaman. Jika benang merah itu terus ditariknya, mungkin akan sampai juga ke dunia pesantren.

Hikmah-hikmah atau ajaran-ajaran yang nilainya sangat dalam namun disampaikan secara jenaka dan santai juga merupakan karakter dari budaya pesantren. Maka, tak heran, cerita-cerita Si Kabayan, juga sebagian cerita pantun, sangat familiar di kalangan pesantren, khususnya pesantren-pesantren salaf. Kesaktian (seperti dalam cerita pantun) dan kejenakaan (seperti dalam cerita Si Kabayan) bukan sekadar wacana bagi kalangan orang-orang pesantren, melainkan juga sudah menjadi perilaku itu sendiri.

Dalam budaya pesantren dikenal istilah khariqul’adah, yang artinya perilaku aneh, nyentrik, seenaknya, blak-blakan, dan tindakannya kadang  di luar perkiraan kebanyakan orang. Perilaku mahiwal ini dipunyai oleh kiai-kiai tertentu atau anak-anak kiai (yang biasanya nakal, jeprut, malas mengaji, berambut gondrong namun gemar berziarah ke makan para wali).

Jika ada kiai atau anak kiai yang perilakunya seperti yang disebut di atas, masyarakat sekitar biasanya dapat memahami dan memaklumi, bahkan menghormatinya sebagai orang “sakti” yang bisa memberikan berkah. Kadang keanehan atau kenyentrikan seperti itu diyakini sebagai proses menuju maqom tertentu dalam pencapaian spiritual, atau dianggap sebagai metode untuk menyampaikan sesuatu, mengajarkan sesuatu secara simbolik.

Kiai nyentrik

Pada awal 1980-an, Gus Dur banyak menulis kolom yang menceritakan perilaku kiai-kiai aneh dan nyentrik ini. Kiai-kiai yang diceritakan Gus Dur ini adalah mereka yang sangat memahami budaya dan lingkungannya, sangat memahami bahasa masyarakatnya, dan umumnya mempunyai apresiasi terhadap tasawuf.

Kolom-kolom yang santai namun serius ini telah dikumpulkan dalam buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Membaca kembali kolom-kolom yang ditulis Gus Dur sebelum menjadi politisi ini terasa sekali adanya benang merah yang menghubungkan Si Kabayan dengan perilaku dan cara berpikir para kiai tersebut: santai, jenaka, kadang konyol namun cerdas dan mendalam.

Kembali ke Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan. Seperti juga buku-bukunya terdahulu yang mengkaji pantun-pantun Sunda dengan cukup mendalam, lewat buku terbarunya ini Jakob telah melakukan sebuah pendekatan yang tepat terhadap cerita-cerita Si Kabayan yang selama ini hanya dipahami masyarakat dari sisi kekonyolan dan kejenakaannya. Dengan pendekatan hermeneutic yang khas miliknya, Jakob berhasil menguak sisi lain dari kekonyolan dan kejenakaan Si Kabayan, juga berhasil mendedahkan sisi sufistik di balik perilaku jeprut  Si Kabayan.

Ternyata Si Kabayan yang bagi masyarakat Sunda kontemporer sangat identik adalah sosok pelawak Ibing Kusmayatna, aktor Didi Petet, atau perupa Tisna Sanjaya ini adalah seorang yang serius dan religius. Ternyata Si Kabayan yang pemalas dan suka usil terhadap mertua ini juga seorang mursyid, guru sufi yang mengajarkan kebajikan dan memberikan pencerahan dengan caranya sendiri.

Siapakah sebenarnya Si Kabayan? Berbeda dengan tokoh Abu Nawas yang jelas silsilah dan fakta sejarahnya, Si Kabayan hanyalah tokoh rekaan dari cerita cerita simbolik yang beredar di tengah masyarakat pedesaan. Dengan kata lain, cerita-cerita Si Kabayan adalah sebuah “metode” untuk menyampaikan ajaran atau kearifan yang dimiliki masyarakat Sunda. Meskipun tokoh dan setting-nya lokal, dalam hal ini Sunda, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal.  Tokoh pintar-pintar bodoh seperti Si Kabayan terdapat juga dalam versi yang berbeda di beberapa suku lain di Indonesia dan di beberapa negara
tetangga. Bahkan, jika dipahami secara esoterik, cerita-cerita Si Kabayan bisa disandingkan dengan kisah-kisah para sufi dari Timur Tengah. Hanya saja cerita-cerita Si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi.

Islam yang mesra

Mengaitkan cerita-cerita Si Kabayan ke dunia tasawuf tentu bukan sesuatu yang aneh atau mengada-ada. Selain memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah kebudayaan, antropologi, dan sosiologi, Jakob juga sangat paham tentang proses masuknya Islam ke wilayah Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia bukan lewat sebuah penaklukan politik, melainkan lewat persentuhan budaya. Masuknya Islam ke Indonesia juga tidak dibawa oleh para politisi atau tentara, tetapi oleh para pedagang.

Islam yang pertama-tama masuk ke Indonesia adalah tasawuf. Tasawuflah yang kemudian memelihara secara harmonis budaya-budaya yang sebelumnya sudah ada. Begitu juga masuknya Islam ke Tatar Sunda, pada awalnya meresap lewat budaya. Maka, tak mengherankan, Islam yang berkembang di Tatar Sunda (seperti yang ditunjukkan oleh para kiai ataupun pesantren-pesantrennya kemudian) adalah Islam yang mesra, bukan Islam yang tegang atau beringas. Islam yang akrab dengan tradisi sehingga masyarakatnya pun tetap mempunyai rasa humor tinggi.

Di tengah krisis kepemimpinan dan ruwetnya dunia perpolitikan kita, membaca dan menghayati kembali makna yang terkandung dalam cerita-cerita Si Kabayan  menjadi penting. Kita merindukan munculnya pemimpin, baik pemimpin nasional maupun agama, yang bukan hanya pintar namun juga sedikit bodoh seperti Si Kabayan.

Kita sudah bosan dipimpin oleh orang-orang pintar namun kepintarannya hanya digunakan untuk memintari orang lain. Kita merindukan pemimpin yang bukan hanya gagah namun juga mempunyai rasa humor tinggi. Kita sudah lelah dipimpin oleh orang-orang gagah namun hobinya menindas sehingga tak pernah memberi kesempatan kepada rakyatnya  untuk tersenyum. Sosok seperti Si Kabayan sangat cocok untuk memimpin bangsa yang paradoks seperti Indonesia ini.

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Si Kabayan menyadap nira aren


Nira adalah cairan manis yang keluar dari tangkai bunga pohon aren (enau). Air nira ini dapat dijadikan gula aren atau dapat diminum sebagai minuman ringan (tuak manis atau dlm bahasa sunda disebut lahang).
Alkisah si Kabayan oleh mertuanya disuruh mengambil air lahang tersebut ke kebun. Dengan langkah yang malas2an iapun terpaksa mau padahal sebenarnya dia paling gak suka disuruh ke kebun.
Berbekal sebilah golok dan dua batang bumbung (bambu betung untuk wadah nira) berangkatlah ia ke kebun. Sesampainya di kebun dia pilih pohon aren yang banyak bunganya lalu melalui tangga bambu dia naik ke atas pohon aren tersebut.
Pada saat dia akan memotong tangkai bunga aren tersebut tiba2 golok yang dipegangnya terjatuh dan jatuhnya persis di atas tangga bambu dan mengeluarkan bunyi merdu (menurut kuping si Kabayan) yang kedengarannya begini : prang – pring – prung – preng – prong – pluk.
Eh, merdu juga nih pikir si Kabayan, lalu dia pengen denger suara itu lagi tapi benda apa lagi yah. Nah, ini kan masih ada sarung goloknya, lalu dia buang ke bawah melalui tangga bambu itu dan berbunyi : trang – tring – trung – treng – trong – plek.
Enaak, kata si Kabayan, apalagi yah, ooh kan ada bumbung kosong, lalu dia terjunkan lagi ke bawah melalui tangga bambu dan berbunyi : dang – ding – dung – deng – dong – blek.
Uenaak tenan, lalu bumbung yang satu lagi dilempar ke atas tangga bambu dan berbunyi : blang – bling – blung -bleng – blong – brek,
Asiiik ah, terus apa lagi yah yang lebih merdu lagi suaranya, ternyata gak ada lagi barang yang bisa didendangkan lewat tangga bambu itu.
Tiba2 dia inget, kan Kabayan teh pinter nyanyi dan juara tembang se kampung, pasti lebih merdu lagi kalau didendangkan lewat tangga bambu itu lagi. Tanpa pikir panjang dan mungkin udah pusing kecapean nangkring diatas pohon maka dengan serta merta dia jatuhkan badannya ke tangga bambu maka terdengarlah suara yang jauh dari merdunya tembang si Kabayan : ha’ – hi’ – hu’ – he’ – hoo’ – heeek.

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan Sang Penakluk


Kabayan yang keasikan mengantar Clara mencari makam Xiang Poek, membuat Iteung dibakar cemburu. Apalagi orang lain memanas-manasi. Ditambah lagi, saat selamatan yang diadakan Kades untuk syukuran atas keberhasilan Kabayan membongkar sindikat Uyut Keramat, Kabayan dan Clara tidak hadir.

Berkat petunjuk Aliong dan Kimnio yang mengaku masih keturunan Xiang Poek, akhirnya Kabayan dan Clara sampai ke kuburan Xiang Poek dan para prajuritnya yang ditutupi ilalang. Kabayan yang dihantui oleh mimpi buruk kehadiran Uyut Keramat melompat-lompat seperti vampir Cina, menceritakannya pada Clara dengan cara yang membuat Clara ketakutan. Kabayan menirukan gaya vampir dengan melompat-lompat melompati kuburan Xiang Poek. Akibat ulah Kabayan itu, terjadi goncangan seperti gempa di kuburan Xiang Poek. Clara dan Kabayan lari terbirit-birit.

Selamatan yang diselenggarakan Kades berakhir dengan kecemburuan Iteung yang kian memuncak. Pasalnya Kabayan dan Clara datang sambil berlari dan berpegangan tangan. Iteung tidak mau didekati Kabayan meskipun suaminya terus berusaha membujuknya.

Ternyata ulah Kabayan itu membangkitkan Xiang Poek. Namun Xiang Poek hendak melakukan perhitungan terhadap Kabayan yang dianggap sudah menodai kehormatannya. Kehadiran Xiang Poek sempat membuat heboh para peronda yang sedang sedang berjaga malam itu. Mereka kemudian minta tolong Kabayan yang pada saat itu hampir rukun kembali dengan istrinya. Mengetahui kemunculan Xiang Poek, Kabayan berusaha menghindar. Tapi Abah Ontohod mendorongnya dengan cara memuji-muji Kabayan sebagaimana diucapkan Kades dalam selamatan.

Saat Kabayan pergi, Xiang Poek datang ke rumah Abah dan membuat mereka ketakutan. Untung Kabayan cepat datang menolong. Tentu saja menolong dalam arti mengalihkan perhatian Xiang Poek. Kini justru dialah yang dikejar-kejar dan ditangkap Xiang Poek.

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Si Kabayan Mencari Tuhan


Si Kabayan seorang laki-laki yang beasal dari desa, telah lima tahun menuntut ilmu di negeri paman sam. Suatu hari… ia kembali ke desanya.

Nyai Iteng (Istrinya) merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada diri sang suami (Kabayan). Kabayan yang dulunya rajin shalat… kini ga pernah lagi terlihat pergi ke masjid “boro-boro ke masjid… shalat di rumahpun ga pernah”

Iteung penasaran dan menanyakan kepada sang suami kenapa dia menjadi berubah. “Kang Kabayan! Iteung mah ngerasa aneh sama akang!” Kata iteung heran

“Aneh kenapa atuh nyi!” Jawab kang Kabayan.

“Kenapa sekarang akang jarang shalat… jarang ngaji…. dan ga pernah pergi ke masjid!” tambah iteung.

“Sekarang saya punya keyakinan baru dari negeri paman sam sana iteung!” jawab Kabayan dengan nada tinggi.

“Astaghfirullah….! kenapa akang jadi begini?” Iteung sedih.

“Sudahlah iteung… kamu bawa saja kiayi atau ustad paling hebat di kampung ini! dia pasti ga bisa jawab pertanyaan akang, dia pasti jadi pengikut akang” Kata Kabayan dengan sombong.

Iteung merasa khawatir… iapun bergegas memanggil ustad Asep, salah satu guru ngaji di kampung tetangga.

Atas panggilan Iteung, datanglah sang ustad ke rumah si Kabayan. “Anda siapa?” tanya kabayan.

“Saya ustad Asep, dari kampung sebelah”

“Benar kamu ustad? kalo benar kamu ustad… dan kamu percaya bahwa tuhan itu ada, kamu pasti bisa menjawab pertanyaan saya. Tetapi kalau tidak bisa… tinggalkan saja agamamu itu!” Kabayan menantang sang ustad…

“Isya Allah… jika Allah mengijinkan saya akan menjawabnya.” Kata ustad

“Kamu jangan yakin dulu… di Amerika saja, waktu saya kuliah… Profesor paling pintar sekalipun tidak ada yang bisa menjawab” Hardik Kabayan dengan yakin.

“Kalau begitu… pertanyaan apa yang akan kang Kabayan tujukan pada saya?” Tanya ustad.

“Begini….
1. Kalau benar tuhan itu ada, tunjukan wujud tuhan kepada saya.
2. Kalau benar manusia mempunyai takdir, apa itu takdir dan tunjukan pula pada saya.
3. Setan itu kan diciptakan dari Api, lalu kenapa tuhan memasukan setan ke dalam neraka? bukankah neraka juga terbuat dari api? apakah setan akan merasa sakit dengan api? mengapa tuhan tidak berfikir sampai kesitu?” Tanya kang Kabayan

“PLAK….” (itu gambaran saya tentang suara tamparan) tiba-tiba sang ustad menampar pipi Kabayan dengan keras.

“Aduh…. kenapa kamu menampar saya? kamu marah? kalau tidak bisa membuktikan jangan marah!” kata Kabayan

Sang ustad tersenyum. “Itu adalah jawaban dari ketiga pertanyaan akang”

Kabayan : “Kalau kalah jangan marah…”

Ustad : “Bagai mana rasa tamparan saya”

Kabayan : “Sakit!”

Ustad : “Akang percaya rasa sakit itu ada?”

Kabayan : “Saya percaya!”

Ustad : “Tunjukan wujud sakit itu pada saya”

Kabayan : “Saya tidak bisa menunjukan wujudnya”

Ustad : “Itulah jawaban pertanyan pertama anda. Sesungguhnya Tuhan itu ada namun manusia tidak akan mampu melihat wujudnya”

Ustad : “Apakah sebelum saya datang Akang berfikir akan merima tamparan dari saya hari ini?”

Kabayan : “Tidak!”

Ustad : “itulah yang dinamakan takdir…”

Ustad : “terbuat dari apa tangan saya?”

Kabayan : “Kulit…”

Ustad : “Terbuat dari apa pipi Akang?”

Kabayan : “Kulit juga.”

Ustad : “Bagaimana rasa tamparan saya?”

Kabayan : “sakit!”

Ustad : “Walaupun setan terbuat dari api dan neraka pun terbuat dari api… jika Tuhan berkehendak maka neraka merupakan tempat yang menyakitkan bagi setan”

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan dan bus tingkat


Di halte bus kabayan melihat bus bertingkat. Sang kondektur berteriak
meneriakkan tujuan bus tersebut.. Si kabayan bertanya :
Kabayan : “Jurusan mana bis inih, pak ?
Kondektur : “Grogol !”
Kabayan : “Kalau yang di atas ?”

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan Naik Kereta


Suatu hari Kang Kabayan mo brangkat ke Jakarta menggunakan Kereta Api jadwal jam 6 pagi, tiba di statsiun jam 6:05 begitu sampai ternyata Kereta sudah berangkat lima menit yang lalu dan Kabayanpun sedih, besoknya Kabayan pergi lagi ke Stasiun dan tiba jam 6:01 lagi lagi kereta sudah berangkat semenit yang lalu, Kabayan kesal dan berucap,
“Besok mah sayah akan datang jam 5 pagi siah!!”
Dan ternyata benar besoknya Kabayan sudah duduk diatas rel kereta sambil menunggu Kereta datang, tepat jam 5:45 kereta muncul dari kejauhan dan Kabayan pun berdiri sambil bergumam “hmm nah ini dia keretanya”
Tapi ketika kereta sudah mendekat tiba tiba secepat kilat Kabayan lari diatas rel menjauhi kereta dan berteriak “KAMU UDAH 2 KALI NINGGALIN SAYA, SEKARANGGGGG….BAGIAN SAYA YANG NINGGALIN KAMMUUUUUUU”

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan dan Abu Nawas Membahas Matematika


Di suatu tempat Kabayan bertemu Abu Nawas untuk membahas masalah matematika.
Kabayan : “Abah Abu, sebenarnya saya ini bukan ahli matematika nih. Cuma, saya diundang berseminar matematika di sini. Menurut Abah Abu, saya harus bagaimana nih?”
Abu Nawas : “Kang Kabayan, memangnya materi apa yang akan disampaikan pada seminar kali ini?”
Kabayan : “Sebenarnya sih sederhana saja, panitia meminta saya menyampaikan tentang persamaan. Cuma mereka minta agar persamaan itu tak dibahas secara matematis, tapi dengan cara-cara yang sederhana (kalau bisa sih lucu) dan mudah dipahami oleh orang-orang biasa. Makanya saya ikut seminar ini. Kalau diminta membahas secara matematis sih, wah saya tak sanggup deh….”
Abu Nawas : “Oh begitu ya…? Coba nih saya tanya, kira-kira Kang Kabayan menyelesaikan persamaan (8-x)/3 + 2 = 4 ini bagaimana?”
Kabayan : “Secara matematis yang tepat sih, saya tak bisa menjelaskannya. Mungkin saya akan ditertawakan oleh para matematikawan-matematikawan itu. Saya bisanya dengan kata-kata saja…, dengan cara saya, seperti yang diminta panitia.”
Abu Nawas: “Memangnya bagaimana? Saya juga tak mengerti bila diminta menjelaskan secara matematis. Soal tadi itu juga saya dapatkan dari kawan saya yang bertanya ke saya, dan saya tak bisa menjelaskannya secara matematis. Coba deh, menurutmu bagaimana cara penyelesaian persamaan tersebut?”
Kabayan : “Ah, Abah Abu merendah saja….”
Abu Nawas: “Serius! Saya benar-benar tidak bisa.” (kali ini tampak wajah Abu Nawas terlihat serius)
Kabayan : “Baiklah kalau begitu. Begini menurut saya, persamaan itu saya ibaratkan sebuah timbangan dengan “dua tangan”. Tanda sama dengan berarti seimbang.” Abu Nawas menyimak Kabayan dengan sungguh-sungguh.
Kabayan: “Berarti, untuk menyelesaikan persamaan tersebut ((8-x)/3 + 2 = 4), mudahnya begini saja. Saya ibaratkan 4 itu empat buah semangka berukuran sama yang terletak di sebelah kanan timbangan. Dan di sebelah kiri, (8-x)/3 + 2 itu berarti banyaknya semangka yang saya sendiri belum tahu berapa banyaknya ditambah dua semangka.” (Yang dimaksud Kabayan dengan banyaknya semangka yang ia belum tahu berapa banyaknya adalah (8-x)/3 ).
Abu Nawas: “Ya… ya …, terus?”
Kabayan: “Nah, karena di sebelah kiri sudah jelas ada 2 semangka dan sebelah kanan ada 4 semangka, berarti bagian yang saya belum tahu ((8-x)/3 ) itu sebenarnya berjumlah 2 buah semangka. Jadinya, saya bisa tulis (8-x)/3 = 2.” Kabayan tampak terdiam beberapa saat, memperhatikan persamaan baru ((8-x)/3 = 2) yang diperolehnya. Kemudian, segera setelah itu ia melanjutkan penjelasannya….
Kabayan: “(8-x)/3 = 2, artinya banyaknya suatu semangka (8-x) bila dibagi 3 sama saja dengan 2. Berarti banyaknya semangka tersebut pasti adalah 6. Makanya berarti 8-x = 6.” Belum sempat melanjutkan penjelasannya, Abu Nawas segera berseru dan mengatakan begini.
Abu Nawas: “Saya mengerti, saya mengerti…. Jadinya, karena 8-x = 6, artinya delapan semangka dikurangi berapa semangka (nilai x) hasilnya 6 kan? Pasti banyaknya semangka itu (di persamaan ini diberi symbol x) adalah 2, benar kan?”
Kabayan: “Ya benar…. Tuh kan, Abah Abu cuma merendah saja….”
Abu Nawas: “Ah *engga* juga, kamu benar-benar bagus penjelasannya. Makanya saya gampang mengerti.”

Abu Nawas tertawa gembira, karena ia mengerti penjelasan Kabayan. Kemudian, ia pun bercerita pada Kabayan bahwa ia diundang ke seminar ini pun bukan karena ia mengerti matematika. Tapi, ia diminta panitia untuk menjelaskan sastra (bahasa) terkait dengan matematika. Karena katanya, Matematika itu adalah bahasa juga, tapi berupa bahasa symbol.

Abu Nawas: “Sekarang saya jadi mengerti persamaan itu apa. Ini memudahkan saya untuk bercerita tentang matematika sebagai bahasa symbol nanti siang”, begitu kata Abu Nawas dengan nada optimis.
Kabayan: “Sekarang, gantian saya yang mau bertanya nih sama Abah Abu….”
Abu Nawas: “Ah kang Kabayan, jangan nanya yang susah-susah ya…?”
Kabayan: “Justru ini pertanyaan susah yang belum bisa saya jawab. Begini ceritanya, seminggu yang lalu presiden memberi potongan hukuman bagi para tahanan. Bahwa semua tahanan diberi potongan berupa setengah dari masa hukuman yang harus dijalani tiap tahanan tersebut. Untuk tahanan yang dihukum 10 tahun, karena dipotong setengahnya, jadinya ia cuma tinggal menjalani hukuman 5 tahun saja. Bila seorang tahanan dihukum 20 tahun, karena dipotong setengahnya jadinya tinggal 10 tahun saja. Begitu seterusnya. Ketetapan ini sudah diputuskan oleh presiden dan tak bisa diubah!”
Abu Nawas: “Terus, masalahnya apa?”
Kabayan: “Ini sebenarnya masalah matematika juga, cuma matematikawan-matematikawan di negeri saya tak ada yang sanggup menjawabnya. Masalahnya begini, karena ada tahanan yang dihukum seumur hidup (sampai sang tahanan tersebut meninggal), artinya kan harus ditentukan berapa lama sisanya ia akan dihukum? Padahal tak ada yang tahu kapan seseorang itu meninggal. Tak ada yang tahu berapa lama umur seseorang itu. Masalah ini jadi heboh di seluruh Indonesia dikarenakan presiden dengan ceroboh menetapkan kebijakannya tersebut. Belum ada yang bisa memecahkannya. Paranormal seperti dukun, tukang ramal nasib, tukang tenung, mentalist (semisal Dedi Corbuzier) dan sebangsanya itu tak bisa memecahkannya. Cendekiawan yang terkenal cerdik pun semisal Gus Dur dibikin repot karenanya (padahal Gus Dur terkenal dengan perkataannya, “Gitu aja kok repot.” Tapi, kali ini benar-benar ia repot dibuatnya). Para matematikawan pun yang pintar-pintar itu angkat tangan mencari solusinya. Dan ini menjadi isu nasional. Jadi, bagaimana Abah Abu menyelesaikannya?”
Abu Nawas: “Ooooh begitu ya? Berat juga masalahnya kalau begitu. Tapi, beri saya waktu sepuluh menit saja, saya habiskan dulu ya makanan saya….” Kabayan pun mempersilakan Abu Nawas menghabiskan makanannya. Sambil makan, tampak Abu Nawas berfikir dengan serius. Dan, segera setelah habis makanannya, tampak cerialah wajah Abu Nawas, pertanda ia punya pemecahan masalah tersebut.
Abu Nawas: “Hahaa…. Menurut saya begini saja, masalah ini bisa diselesaikan dengan konsep persamaan yang telah kamu jelaskan tadi….”
Kabayan: “Oh ya…? Bagaimana?”
Abu Nawas: “Karena persamaan itu menurutmu berarti seimbang, atau keseimbangan, masalah pemotongan masa hukuman tersebut ya mudah saja diselesaikan. Begini caranya, supaya orang yang dihukum seumur hidup itu dapat potongan hukuman setengah masa hidupnya, cara menghukumnya begini saja. Sehari ia ditahan, sehari ia dibebaskan, begitu seterusnya hingga ia meninggal. Seimbang bukan, seperti persamaan kan?”
Kabayan: “Subhanallah, Alhamdulillah… benar-benar penyelesaian yang sangat cantik, dan sesuai konsep persamaan. Luar biasa, luuuuuuuuuuuuar biasa! Saya bersyukur bisa bertemu Abah Abu di tempat ini. Terimakasih ya Abah Abu….”

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

kopi panas kabayan


Suatu hari kabayan pergi ngdate ama nyi iteung ke suatu warkop pinggi pesawahan . Karna kabayan kelelahan maka nyi iteung pun menyarankan kabayan untuk meminum kopi . dengan sigap kabayan merespon “NGGA ! akang ga punya duit nya nyi” . nyi iteung pun tak menghiraukan keluhan kabayan . dan nyi iteung pun bertanya .
“kopi nya berapaan bang?” .
mang warung pun menjawab “kopi panas 2000 kalo dingin 5000”
“Ya udah mang pesen 1” .
tak lama kemudian kopi pun selesai dan langsung di sodorkan ke depan kabayan . dengan sigap dan lahap kabayan langsung menghabiskan kopi ya baru jadi itu(ya suhu pasti skitar 90drajat C) . nyi iteung pun bingung dan bertanya .
“akang!! apa2an sih itu kopi masih langsung minum aja”
“karna kalo udah dingin jadi 5000 nyi !!!

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan Pergi ke Kota


Pada suatu hari Kabayan seorang pemuda desa pergi ke kota. Setelah tiba di kota ia heran melihat gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota tersebut.
Pada suatu itu ia berada tepat di depan sebuah Bank terkenal, karena penasaran ia mencoba bertanya kepada seorang yang berada di sampingnya yang kebetulan seorang turis asing.

Kabayan: Permisi Pak.. ini gedung apa, ya?

Lantaran si Kabayan bertanya sambil menunjuk ke arah Bank tersebut, si turis pun paham akan maksudnya.

Turis: Bank..!

Kabayan: Gedung itu yang punya siapa ya?

Karena bingung akan maksud si Kabayan, turis pun menjawab..

Turis: I don’t know..

Kabayan: Hebat, I don’t know pasti orang kaya.

Pada waktu yang bersamaan melintas pesawat terbang di atas gedung tersebut. Si Kabayan kembali bertanya..

Kabayan: Nah, kalo itu milik siapa?

Dengan sedikit kesal, si Turis menjawab…

Turis: I don’t know what you mean!..?

Kabayan: Wah.. wah, hebat I don’t know, gedung ini miliknya, pesawat itu juga miliknya. Dia pasti orang yang sangat kaya.

Lalu kemudian mereka terdiam sejenak sambil melihat hilir mudik kendaraan yang melintas. Saat itu juga si Kabayan melihat iring-iringan mobil jenazah yang melintas di depan mereka.

Kabayan: Kira-kira siapa yang mati itu, ya?

Karena dari tadi diberi pertanyaan yang tidak jelas maksudnya, turis itu dengan kesal menjawab sambil berteriak…

Turis: I DON’T KNOW..!!!

Kabayan: Malang nian nasibmu I DON’T KNOW.. Kaya raya kok mati…

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar

Kabayan dan Profesor


Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.

Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, “Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?”

Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta. Hal ini membuat Profesor menjadi gusar.Katanya, “Kabayan, ayo kita main tebak-tebakan! Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000,- Tetapi kalau kau bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp.50.000,-

Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu. Profesor melanjutkan, “Kemudian, kauajukan pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp.5.000,- Tapi kalau aku tak bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp.50.000,- Bagaimana?”

Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, “Baik kalau begitu. Sekarang ajukan pertanyaanmu.””Ok,” sahut profesor dengan cepat.”Pertanyaanku, berapa jarak yang tepat antara bumi dan bulan?”

Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. ia langsung merogoh sakunya dan menyerahkan Rp.5.000,- kepada profesor.Dengan gembira Profesor menerima uang itu, “Nah, sekarang giliranmu.”

Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Binatang apa yang sewaktu mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?”

Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop, menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai situs ensiklopedi.

Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia menyerah. Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp.50.000,- pada Kabayan yang menerimanya dengan hati senang.

“Hai, tunggu dulu!” profesor itu berteriak. “Aku tidak terima. Apa jawaban atas pertanyaanmu tadi?”

Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar