poojetz >> Puji Astuti

perkataan pertama adalah yang keluar dari hati

TIMUR LENK DI DUNIA


Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

“Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?”

Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.

“Saya taksir, sekitar 100 dinar saja”

Timur Lenk membentak Nasrudin, “Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar.”

“Tepat sekali,” kata Nasrudin. “Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja.”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

NASRUDIN PEMUNGUT PAJAK


Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.

Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.

“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?” bentak Timur Lenk. “Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.

“Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?” Timur Lenk lebih marah lagi. Nasrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini.”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

TEORI KEBUTUHAN


Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

NASRUDIN MEMANAH


Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

“Ayo Nasrudin,” kata Timur Lenk, “Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.”

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, “Demikianlah gaya tuan wazir memanah.”

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.”

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.”

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Harga Kebenaran


Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. “Kebenaran,” ujarnya “adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material.”

Seorang murid bertanya, “Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?”

“Kalau engkau perhatikan,” sahut Nasrudin, “Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia.”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Menjemur Baju


Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh,

“Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi. Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan.”

Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air.

Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut,

“Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!”

Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira.

“Bajuku hanya satu ini,” kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, “Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Bersembunyi


Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian saja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.

“Aha!” kata si pencuri, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?”

“Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”

Posts: 519

View Profile WWW Email

« on: 17 January 2010, 17:15 »


Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian saja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.

“Aha!” kata si pencuri, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?”

“Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Periuk Beranak


Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.

“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat.”

Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, “Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”

Sang tetangga menjadi marah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!”

“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Keledai Membaca


Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

Februari 9, 2011 Posted by | Nasrudin Hoja | | Tinggalkan komentar

Si Kabayan Jadi Sufi


Membaca Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan karya Jakob Sumardjo membuat saya teringat kembali kepada cerita-cerita tentang Abu Nawas, yang juga tak kalah paradoksnya. Di mata Jakob yang keturunan Jawa, Si Kabayan bukan hanya sosok konyol dan malas, melainkan juga seorang yang cerdas, bijak, dan religius.

Jakob telah mengangkat derajat Si Kabayan yang dipahami masyarakat luas sebagai pelawak ke maqom  sebenarnya, yakni seorang mursyid yang sudah mencapai teu nanaon ku nanaon. Selain juga, seorang guru sufi yang memberikan pencerahan bukan lewat kata-kata tinggi yang susah dimengerti, melainkan lewat perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana, yang sifatnya jenaka, santai namun bermakna sangat dalam.

Buku yang menarik ini tampaknya merupakan kelanjutan dari buku-buku Jakob sebelumnya seperti Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda dan Khazanah Pantun Sunda, yang merupakan telaah cemerlang atas cerita-cerita rakyat Sunda. Lewat buku-bukunya itu, Jakob berhasil menarik benang merah antara budaya peninggalan Hindu-Buddha, masyarakat pedesaan yang berkarakter agraris dan napas keislaman. Jika benang merah itu terus ditariknya, mungkin akan sampai juga ke dunia pesantren.

Hikmah-hikmah atau ajaran-ajaran yang nilainya sangat dalam namun disampaikan secara jenaka dan santai juga merupakan karakter dari budaya pesantren. Maka, tak heran, cerita-cerita Si Kabayan, juga sebagian cerita pantun, sangat familiar di kalangan pesantren, khususnya pesantren-pesantren salaf. Kesaktian (seperti dalam cerita pantun) dan kejenakaan (seperti dalam cerita Si Kabayan) bukan sekadar wacana bagi kalangan orang-orang pesantren, melainkan juga sudah menjadi perilaku itu sendiri.

Dalam budaya pesantren dikenal istilah khariqul’adah, yang artinya perilaku aneh, nyentrik, seenaknya, blak-blakan, dan tindakannya kadang  di luar perkiraan kebanyakan orang. Perilaku mahiwal ini dipunyai oleh kiai-kiai tertentu atau anak-anak kiai (yang biasanya nakal, jeprut, malas mengaji, berambut gondrong namun gemar berziarah ke makan para wali).

Jika ada kiai atau anak kiai yang perilakunya seperti yang disebut di atas, masyarakat sekitar biasanya dapat memahami dan memaklumi, bahkan menghormatinya sebagai orang “sakti” yang bisa memberikan berkah. Kadang keanehan atau kenyentrikan seperti itu diyakini sebagai proses menuju maqom tertentu dalam pencapaian spiritual, atau dianggap sebagai metode untuk menyampaikan sesuatu, mengajarkan sesuatu secara simbolik.

Kiai nyentrik

Pada awal 1980-an, Gus Dur banyak menulis kolom yang menceritakan perilaku kiai-kiai aneh dan nyentrik ini. Kiai-kiai yang diceritakan Gus Dur ini adalah mereka yang sangat memahami budaya dan lingkungannya, sangat memahami bahasa masyarakatnya, dan umumnya mempunyai apresiasi terhadap tasawuf.

Kolom-kolom yang santai namun serius ini telah dikumpulkan dalam buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Membaca kembali kolom-kolom yang ditulis Gus Dur sebelum menjadi politisi ini terasa sekali adanya benang merah yang menghubungkan Si Kabayan dengan perilaku dan cara berpikir para kiai tersebut: santai, jenaka, kadang konyol namun cerdas dan mendalam.

Kembali ke Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan. Seperti juga buku-bukunya terdahulu yang mengkaji pantun-pantun Sunda dengan cukup mendalam, lewat buku terbarunya ini Jakob telah melakukan sebuah pendekatan yang tepat terhadap cerita-cerita Si Kabayan yang selama ini hanya dipahami masyarakat dari sisi kekonyolan dan kejenakaannya. Dengan pendekatan hermeneutic yang khas miliknya, Jakob berhasil menguak sisi lain dari kekonyolan dan kejenakaan Si Kabayan, juga berhasil mendedahkan sisi sufistik di balik perilaku jeprut  Si Kabayan.

Ternyata Si Kabayan yang bagi masyarakat Sunda kontemporer sangat identik adalah sosok pelawak Ibing Kusmayatna, aktor Didi Petet, atau perupa Tisna Sanjaya ini adalah seorang yang serius dan religius. Ternyata Si Kabayan yang pemalas dan suka usil terhadap mertua ini juga seorang mursyid, guru sufi yang mengajarkan kebajikan dan memberikan pencerahan dengan caranya sendiri.

Siapakah sebenarnya Si Kabayan? Berbeda dengan tokoh Abu Nawas yang jelas silsilah dan fakta sejarahnya, Si Kabayan hanyalah tokoh rekaan dari cerita cerita simbolik yang beredar di tengah masyarakat pedesaan. Dengan kata lain, cerita-cerita Si Kabayan adalah sebuah “metode” untuk menyampaikan ajaran atau kearifan yang dimiliki masyarakat Sunda. Meskipun tokoh dan setting-nya lokal, dalam hal ini Sunda, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal.  Tokoh pintar-pintar bodoh seperti Si Kabayan terdapat juga dalam versi yang berbeda di beberapa suku lain di Indonesia dan di beberapa negara
tetangga. Bahkan, jika dipahami secara esoterik, cerita-cerita Si Kabayan bisa disandingkan dengan kisah-kisah para sufi dari Timur Tengah. Hanya saja cerita-cerita Si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi.

Islam yang mesra

Mengaitkan cerita-cerita Si Kabayan ke dunia tasawuf tentu bukan sesuatu yang aneh atau mengada-ada. Selain memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah kebudayaan, antropologi, dan sosiologi, Jakob juga sangat paham tentang proses masuknya Islam ke wilayah Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia bukan lewat sebuah penaklukan politik, melainkan lewat persentuhan budaya. Masuknya Islam ke Indonesia juga tidak dibawa oleh para politisi atau tentara, tetapi oleh para pedagang.

Islam yang pertama-tama masuk ke Indonesia adalah tasawuf. Tasawuflah yang kemudian memelihara secara harmonis budaya-budaya yang sebelumnya sudah ada. Begitu juga masuknya Islam ke Tatar Sunda, pada awalnya meresap lewat budaya. Maka, tak mengherankan, Islam yang berkembang di Tatar Sunda (seperti yang ditunjukkan oleh para kiai ataupun pesantren-pesantrennya kemudian) adalah Islam yang mesra, bukan Islam yang tegang atau beringas. Islam yang akrab dengan tradisi sehingga masyarakatnya pun tetap mempunyai rasa humor tinggi.

Di tengah krisis kepemimpinan dan ruwetnya dunia perpolitikan kita, membaca dan menghayati kembali makna yang terkandung dalam cerita-cerita Si Kabayan  menjadi penting. Kita merindukan munculnya pemimpin, baik pemimpin nasional maupun agama, yang bukan hanya pintar namun juga sedikit bodoh seperti Si Kabayan.

Kita sudah bosan dipimpin oleh orang-orang pintar namun kepintarannya hanya digunakan untuk memintari orang lain. Kita merindukan pemimpin yang bukan hanya gagah namun juga mempunyai rasa humor tinggi. Kita sudah lelah dipimpin oleh orang-orang gagah namun hobinya menindas sehingga tak pernah memberi kesempatan kepada rakyatnya  untuk tersenyum. Sosok seperti Si Kabayan sangat cocok untuk memimpin bangsa yang paradoks seperti Indonesia ini.

Februari 9, 2011 Posted by | Kabayan | | Tinggalkan komentar