poojetz >> Puji Astuti

perkataan pertama adalah yang keluar dari hati

Bahaya Memanjakan Anak dengan Makanan


Bahaya Memanjakan Anak dengan Makanan
Jakarta – Akhir pekan biasanya merupakan ajang untuk ‘menebus dosa’ para orang tua pada anak-anak. Minta es krim, cokelat, fried chicken atau burger? Semuanya dengan mudah diberikan sebagai ‘hadiah’ atau iming-iming. Hati-hatilah, kebiasaan ini ternyata bisa merusak kesehatan anak tercinta!

Riset terakhir yang dilakukan British Heart Foundation menunjukkan anak-anak sekarang tidak bisa lagi dirayu dengan sekantung keripik kentang atau cokelat. Karena makanan tersebut buat mereka kini sudah jadi makanan sehari-hari yang gampang didapat.

Anak-anak merupakan cerminan keadaan masyarakat saat ini. Kalau dulu anak-anak sangat tergiur dengan iming-iming hadiah cokelat atau keripik kentang, sekarang tidak lagi.  Anak-anak sudah terlalu banyak digelontor manian, makanan manis dan juga jalan-jalan.

“Makanan merupakan salah satu cara orang tua menunjukkan kasih saying pada anak mereka,” ujar Judy More seorang ahli gizi anak si Inggris seperti dilansir BBC News.

“Keluarga berpenghasilan rendah masih mampu memanjakan anak-anak mereka dengan cokelat atau keripik murah. Sedangkan keluarga menengah juga memakai makanan rendah gizi atau tak bergizi untuk memanjakan anak mereka,” lanjut Judy.

Makanan pada anak-anak bukan hanya bagian dari pencarian jati diri tetapi juga menjadi kepanikan moral. Obesitas pada anak-anak bukan hanya karena mengkonsumsi gula, garam dan lemak berlebihan tetapi mereka juha kehilangan konsentrasi saat di kelas dan melakukan kekerasan di jalan seperti tawuran.

Konsumsi anak-anak Inggris masa kini jauh berbeda dengan anak-anak di tahun 1950 an. Karena usai perang maka mereka banyak mengkonsumsi serat dari roti gandum dan susu untuk kebutuhan kalsium. Mereka juga lebih sedikit mengkonsumsi gula dari minuman ringan dan permen.

Anak-anak 60 tahun silam juga banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan sebagai sumber serat dan mineral. Juga banyak makan daging merah sebagai sumber zat besi yang penting untuk pertumbuhan mereka.

Ironisnya anak-anak modern saat ini sudah terlalu banyak dijejali makanan manis dan aneka keripik yang asin. “Seharusnya orang tua benar-benar mengamati konsumsi daging merah, buah dan sayur segar serta serat pada anak-anak mereka agar mereka lebih sehat,” demikian saran para ahli gizi anak.

Dalam urusan bermain, anak-anak masa lalu lebih banyak bergerak sehingga ada kesimbangan antara makanan yang dimakan dan energi yang dikelaurkan. Karena itu jarang terjadi obesitas.

Langkah yang bisa diambil kalangan insdustri makanan antara lain mengurangi kandungan garam pada aneka keripik dan tidak menjual lagi cokelat dalam ukuran besar. Para orang tua di Inggris juga menghendaki campur tangan pemerintah misalnya dengan larangan menarik aneka camilan dan cokelat di rak yang mudah dijangkau anak-anak.

Bahkan The British Heart Foundation meminta produsen makanan untuk memberi label ‘Junk Food’ pada makanan yang diproduksinya dan berhenti menyelipkan aneka games dan hadiah pada kemasan makanan  dan website mereka.

“Terlalu mudah menyalahkan iklan,” demikian komentar Lisa Miles,seorang ahli gizi British Nutrition Foundation. “Pemerintah memang punya peran tetapi keluarga juga punya tanggungjawab. Jangan terlalu berlebihan. Ada baiknya mulai menyadari bahwa banyak anak tak bisa lepas dari keripik dan cokelat dan mereka perlu berubah,” demikian imbuhnya.

Nah, tegakah Anda merampas cokelat atau keripik kentang kesukaan si kecil? Mulailah perubahan kecil. Misalnya, mengajak si kecil membuat makanan sendiri yang lebih sehat, enak dan murah. Siapkah Anda?

Maret 1, 2011 - Posted by | Tips Hidup Sehat

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: