poojetz >> Puji Astuti

perkataan pertama adalah yang keluar dari hati

Si Kabayan Jadi Sufi


Membaca Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan karya Jakob Sumardjo membuat saya teringat kembali kepada cerita-cerita tentang Abu Nawas, yang juga tak kalah paradoksnya. Di mata Jakob yang keturunan Jawa, Si Kabayan bukan hanya sosok konyol dan malas, melainkan juga seorang yang cerdas, bijak, dan religius.

Jakob telah mengangkat derajat Si Kabayan yang dipahami masyarakat luas sebagai pelawak ke maqom  sebenarnya, yakni seorang mursyid yang sudah mencapai teu nanaon ku nanaon. Selain juga, seorang guru sufi yang memberikan pencerahan bukan lewat kata-kata tinggi yang susah dimengerti, melainkan lewat perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana, yang sifatnya jenaka, santai namun bermakna sangat dalam.

Buku yang menarik ini tampaknya merupakan kelanjutan dari buku-buku Jakob sebelumnya seperti Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda dan Khazanah Pantun Sunda, yang merupakan telaah cemerlang atas cerita-cerita rakyat Sunda. Lewat buku-bukunya itu, Jakob berhasil menarik benang merah antara budaya peninggalan Hindu-Buddha, masyarakat pedesaan yang berkarakter agraris dan napas keislaman. Jika benang merah itu terus ditariknya, mungkin akan sampai juga ke dunia pesantren.

Hikmah-hikmah atau ajaran-ajaran yang nilainya sangat dalam namun disampaikan secara jenaka dan santai juga merupakan karakter dari budaya pesantren. Maka, tak heran, cerita-cerita Si Kabayan, juga sebagian cerita pantun, sangat familiar di kalangan pesantren, khususnya pesantren-pesantren salaf. Kesaktian (seperti dalam cerita pantun) dan kejenakaan (seperti dalam cerita Si Kabayan) bukan sekadar wacana bagi kalangan orang-orang pesantren, melainkan juga sudah menjadi perilaku itu sendiri.

Dalam budaya pesantren dikenal istilah khariqul’adah, yang artinya perilaku aneh, nyentrik, seenaknya, blak-blakan, dan tindakannya kadang  di luar perkiraan kebanyakan orang. Perilaku mahiwal ini dipunyai oleh kiai-kiai tertentu atau anak-anak kiai (yang biasanya nakal, jeprut, malas mengaji, berambut gondrong namun gemar berziarah ke makan para wali).

Jika ada kiai atau anak kiai yang perilakunya seperti yang disebut di atas, masyarakat sekitar biasanya dapat memahami dan memaklumi, bahkan menghormatinya sebagai orang “sakti” yang bisa memberikan berkah. Kadang keanehan atau kenyentrikan seperti itu diyakini sebagai proses menuju maqom tertentu dalam pencapaian spiritual, atau dianggap sebagai metode untuk menyampaikan sesuatu, mengajarkan sesuatu secara simbolik.

Kiai nyentrik

Pada awal 1980-an, Gus Dur banyak menulis kolom yang menceritakan perilaku kiai-kiai aneh dan nyentrik ini. Kiai-kiai yang diceritakan Gus Dur ini adalah mereka yang sangat memahami budaya dan lingkungannya, sangat memahami bahasa masyarakatnya, dan umumnya mempunyai apresiasi terhadap tasawuf.

Kolom-kolom yang santai namun serius ini telah dikumpulkan dalam buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Membaca kembali kolom-kolom yang ditulis Gus Dur sebelum menjadi politisi ini terasa sekali adanya benang merah yang menghubungkan Si Kabayan dengan perilaku dan cara berpikir para kiai tersebut: santai, jenaka, kadang konyol namun cerdas dan mendalam.

Kembali ke Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan. Seperti juga buku-bukunya terdahulu yang mengkaji pantun-pantun Sunda dengan cukup mendalam, lewat buku terbarunya ini Jakob telah melakukan sebuah pendekatan yang tepat terhadap cerita-cerita Si Kabayan yang selama ini hanya dipahami masyarakat dari sisi kekonyolan dan kejenakaannya. Dengan pendekatan hermeneutic yang khas miliknya, Jakob berhasil menguak sisi lain dari kekonyolan dan kejenakaan Si Kabayan, juga berhasil mendedahkan sisi sufistik di balik perilaku jeprut  Si Kabayan.

Ternyata Si Kabayan yang bagi masyarakat Sunda kontemporer sangat identik adalah sosok pelawak Ibing Kusmayatna, aktor Didi Petet, atau perupa Tisna Sanjaya ini adalah seorang yang serius dan religius. Ternyata Si Kabayan yang pemalas dan suka usil terhadap mertua ini juga seorang mursyid, guru sufi yang mengajarkan kebajikan dan memberikan pencerahan dengan caranya sendiri.

Siapakah sebenarnya Si Kabayan? Berbeda dengan tokoh Abu Nawas yang jelas silsilah dan fakta sejarahnya, Si Kabayan hanyalah tokoh rekaan dari cerita cerita simbolik yang beredar di tengah masyarakat pedesaan. Dengan kata lain, cerita-cerita Si Kabayan adalah sebuah “metode” untuk menyampaikan ajaran atau kearifan yang dimiliki masyarakat Sunda. Meskipun tokoh dan setting-nya lokal, dalam hal ini Sunda, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal.  Tokoh pintar-pintar bodoh seperti Si Kabayan terdapat juga dalam versi yang berbeda di beberapa suku lain di Indonesia dan di beberapa negara
tetangga. Bahkan, jika dipahami secara esoterik, cerita-cerita Si Kabayan bisa disandingkan dengan kisah-kisah para sufi dari Timur Tengah. Hanya saja cerita-cerita Si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi.

Islam yang mesra

Mengaitkan cerita-cerita Si Kabayan ke dunia tasawuf tentu bukan sesuatu yang aneh atau mengada-ada. Selain memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah kebudayaan, antropologi, dan sosiologi, Jakob juga sangat paham tentang proses masuknya Islam ke wilayah Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia bukan lewat sebuah penaklukan politik, melainkan lewat persentuhan budaya. Masuknya Islam ke Indonesia juga tidak dibawa oleh para politisi atau tentara, tetapi oleh para pedagang.

Islam yang pertama-tama masuk ke Indonesia adalah tasawuf. Tasawuflah yang kemudian memelihara secara harmonis budaya-budaya yang sebelumnya sudah ada. Begitu juga masuknya Islam ke Tatar Sunda, pada awalnya meresap lewat budaya. Maka, tak mengherankan, Islam yang berkembang di Tatar Sunda (seperti yang ditunjukkan oleh para kiai ataupun pesantren-pesantrennya kemudian) adalah Islam yang mesra, bukan Islam yang tegang atau beringas. Islam yang akrab dengan tradisi sehingga masyarakatnya pun tetap mempunyai rasa humor tinggi.

Di tengah krisis kepemimpinan dan ruwetnya dunia perpolitikan kita, membaca dan menghayati kembali makna yang terkandung dalam cerita-cerita Si Kabayan  menjadi penting. Kita merindukan munculnya pemimpin, baik pemimpin nasional maupun agama, yang bukan hanya pintar namun juga sedikit bodoh seperti Si Kabayan.

Kita sudah bosan dipimpin oleh orang-orang pintar namun kepintarannya hanya digunakan untuk memintari orang lain. Kita merindukan pemimpin yang bukan hanya gagah namun juga mempunyai rasa humor tinggi. Kita sudah lelah dipimpin oleh orang-orang gagah namun hobinya menindas sehingga tak pernah memberi kesempatan kepada rakyatnya  untuk tersenyum. Sosok seperti Si Kabayan sangat cocok untuk memimpin bangsa yang paradoks seperti Indonesia ini.

Februari 9, 2011 - Posted by | Kabayan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: