poojetz >> Puji Astuti

perkataan pertama adalah yang keluar dari hati

STUDI TENTANG KECEMASAN SISWA ( MENUMBUHKAN KEBERANIAN SISWA UNTUK AKTIF DALAM PEMBELAJARAN )


PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang

Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pengelolaan kelas dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif. Untuk dapat mengimplementasikan keterampilan bertanya dalam pem-belajaran fisika maka seorang guru perlu mengenal macam dari jenis pertanyaan khususnya pertanyan proses dan pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan proses merupakan bentuk pertanyaan yang mengacu pada pengembangan konsep fisika. Lewat daur berpikir empirico-logico-verificatio yang antara lain memuat pertanyaan observasi, klasifikasi, komunikasi, kesimpulan, hipotesis, eksperimentasi, dan pengukuran. Selanjutnya pertanyaan tingkat tinggi pada upaya menggali kemampuan siswa berpikir yang melibatkan aspek penilaian, penciptaan dan penalaran yang hakikatnya menyearahkan siswa untuk mampu berpikir taat asas. Dengan melibatkan aspek-aspek tersebut guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, sehingga perhatian siswa dapat lebih fokus pada pembelajaran dan tidak menimbulkan kebosanan. Dalam kaitan ini, guru sebagai pengelola pembelajaran perlu menghilangkan prasangka terhadap siswa dengan cara mengembangkan keterampilan bertanya dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir serta guru harus sabar dalam menunggu jawaban yang muncul dari siswa.

Penerapan keterampilan bertanya dalam pembelajaran fisika menuntut guru untuk lebih memahami materi fisika, yakni fisika berkembang lewat observasi/ pengamatan eksperimen. Oleh karena itu, sumber belajar yang berkaitan dengan lingkungan fisik perlu ditata ulang agar siswa mampu mengembangkan respon indrawinya sehingga kecermatan dan ketelitian, kejujuran dan kesadaran akan adanya masalah dalam setiap pembelajaran menjadi fokus utama yang perlu mendapatkan perhatian. Dalam kaitan ini pengembangan persepsi siswa menjadi acuan utama yang perlu mendapatkan perhatian dan bantuan guru agar siswa memperoleh kemudahan dan mampu membangun konsep yang benar. Keterampilan bertanya perlu memperhatikan loncatan berpikir dari aspek konkret ke abstrak. Dalam pembelajaran fisika diperlukan pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas yang mampu memberdayakan siswa dalam pembelajaran, Pengelolaan instruksional berkaitan dengan pengelolaan materi yang mampu membangkitkan interes siswa sedangkan pengelolaan kelas berkaitan dengan cara mengatur kelas penyediaan sumber belajar yang mampu menumbuhkan pola interaksi bermakna di kalangan siswa. Maka, penerapan keterampilan bertanya dalam pembelajaran merupakan hal yang penting dan merupakan salah satu aspek yang mampu memberdayakan siswa di kelas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan rumusan masalahnya sebagai berikut:

1.      Bagaimana menciptakan pembelajaran yang aktif di kelas?

2.      Bagaimana menumbuhkan pertanyaan dan mengemukakan gagasan dari siswa dalam pembelajaran?

C. Tujuan

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model latikan inkuiri pada pembelajaran dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan.

 

KAJIAN PUSTAKA

A. Hubungan Kebiasaan Bertanya Dengan Prestasi Belajar

Kebiasaan bertanya merupakan salah satu bagian penting guna menambah tercapainya hasil belajar yang optimal. Siswa akan terlatih untuk berpikir mengenai pelajaran yang telah diterima dan memperjelasnya dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran yang disajikan guru. Sejauh mana usaha siswa untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.

Dengan bertanya kecerdasan berpikir pada siswa, akan terlatih. Siswa akan berpikir dan mengolah pelajaran yang diterima dari guru, dalam otaknya, siswa akan bertanya mengenai pelajaran yang belum dipahaminya, ia bisa bertanya dengan pertanyaan yang mengandung masalah dan ia juga bisa bertanya apa saja, mengenai pelajaran yang telah diterimanya. Dengan bertanya ia terlatih untuk berpikir, terlatih untuk mengembangkan informasi dan pengetahuan yang didapatnya, dan dengan kebiasaan bertanya akan melatih kepribadiannya agar selalu berani dan percaya diri. Kebiasaan bertanya merupakan salah satu faktor penyumbang yang penting bagi keberhasilan siswa dalam prestasi belajar. Dengan bertanya atau menjawab berbagai pertanyaan, pengetahuan yang diperolehnya dari situ akan lebih meninggalkan kesan. Ia akan lebih mengingat dengan apa yang telah ditanyakannya, dengan jawaban yang telah diberikan gurunya, dan begitu juga sebaliknya.

Menurut Ribowo, B. (2006) pentingnya penggunaan keterampilan bertanya secara tepat adalah untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam suatu proses belajar mengajar di kelas, yaitu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan, memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep, mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkritisi suatu informasi yang ia dapatkan, mendorong siswa mengemukakan pendapatnya dalam diskusi, menguji dan mengukur hasil belajar siswa. Pentingnya siswa bertanya di kelas juga untuk mendorong terjadinya interaksi antar siswa agar siswa lebih terlibat secara pribadi dan lebih bertanggung jawab terhadap pertanyaan yang diajukan. Dalam hal ini bertujuan agar menciptakan sistem pembelajaran Student Centre Learning, dimana siswa yang aktif di dalam kelas sedangkan guru menjadi fasilitator, bukan pemegang kekuasaan penuh atas kelas.

Sementara siswa yang tidak banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kurang berkeinginan untuk mengikuti jawabannya, siswa yang kurang berinisiatif untuk mengajukan pertanyaan yang belum dipahaminya, atau pertanyaan yang mengandung masalah. Cenderung merupakan siswa yang lamban belajar. Siswa yang lamban belajar sangat sulit mengikuti pelajaran yang disampaikan gurunya, apalagi mencerna dan mengkajinya seperti yang diharapkan kurikulum sekolah. Jika didorong oleh keberaniannya untuk mengajukan suatu pertanyaan, ia sangat gugup untuk menyampaikannya. Siswa seperti ini harus selalu dimotivasi oleh gurunya agar selalu bertanya sehingga keberanian dan kepercayaan diri serta semangat belajarnya bangkit, yang pada akhirnya prestasi belajarnya tidak jelek.

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebiasaan Bertanya

1. Faktor Dari Dalam Diri Siswa

a. Minat siswa dalam bertanya

Minat, besar pengaruhnya terhadap berbagai aktivitas. Siswa yang berminat terhadap suatu pelajaran, akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Siswa yang berminat pada suatu pelajaran akan selalu bertanya, mengenai hal-hal yang belum dimengerti (belum faham), serta untuk memenuhi rasa ingin tahunya terhadap pelajaran yang disajikan. Minat akan mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Apa yang menarik minat siswa, akan mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Dengan adanya minat akan membuat siswa senang, aktif dan cepat mengerti dalam menerima pelajaran serta membuat siswa tertarik untuk selalu bertanya dalam setiap kesempatan. Tinggi rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan, ini erat kaitannya pula dengan tinggi rendahnya kesadaran diri terhadap pemenuhan rasa ingin tahu / kebutuhan akan informasi, yang salah satunya dengan mengajukan pertanyaan.

b. Memiliki perasaan tidak / kurang berani dalam bertanya

Perasaan kurang berani “(perasaan takut) adalah sejenis naluri. Kebanyakan perasaan takut itu disebabkan karena pengaruh lingkungan. Takut salah, takut mendapat ejekan. Perasaan takut yang ada pada siswa, akan melemahkan semangatnya dan akan menggoyahkan ketenangannya. Ia tidak berani mengajukan pertanyaan, karena diliputi perasaan takut, seperti takut salah, takut mengungkapkan pendapat dan karena ketakutan lainnya. Sehingga apa yang ingin ditanyakan tidak dapat diutarakannya.

c. Motif keingintahuan siswa

Motif ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti yang dikatakan oleh Sartain dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior yang dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, “Motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku / perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Motif keingintahuan siswa yang besar pada suatu pelajaran, akan dapat dilihat pada semangatnya mengikuti pelajaran. Salah satunya yang dapat dilihat ialah kebiasaannya mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan. Dengan motif keingintahuannya yang besar segala aktivitas belajar demi mencapai prestasi dan cita-citanya akan dijalaninya dengan penuh kegigihan.

2. Faktor Dari Luar Diri Siswa

a. Faktor Guru (motivasi dari guru)

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswanya di sekolah, maka gurulah yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar siswanya. Sebagai pendidik guru tidak hanya berperan untuk mendorong meningkatkan prestasi belajar siswa, tetapi juga yang lebih jauh lagi untuk memotivasi siswa agar lebih aktif, bergairah belajar dan menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Selaku motivator, guru harus selalu member semangat agar motif-motif yang positif pada siswanya dapat dibangkitkan, ditingkatkan dan dikembangkan.

Guru harus memotivasi siswanya agar terbiasa bertanya, karena hal itu penting bagi perkembangan kepribadian dan penambah pengetahuan. Dan sebagai orang yang menginginkan keberhasilan dalam mengajar, guru harus selalu mempertahankan agar umpan balik selalu berlangsung dalam diri siswanya. Umpan balik itu tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk sikap mental yang selalu berproses untuk menyerap bahan pelajaran yang diberikan. Bertanya adalah salah satu umpan balik yang diberikan siswa pada guru. Guru yang hanya mengajar dan tanpa memperhatikan mengerti tidaknya siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan, akan mendapat reaksi negatif dari siswa. Siswa cenderung menunjukkan sikap acuh tak acuh atas apa yang disampaikan, ia juga bisa melakukan kegiatan lain yang terlepas dari masalah pelajaran.

b. Faktor Lingkungan, suasana belajar

Suasana belajar yang menyenangkan akan mempengaruhi semangat dan suasana hati siswa. Siswa yang memiliki semangat untuk belajar dan memiliki suasana hati yang menyenangkan, ia akan mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan tidak akan sungkan-sungkan mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasannya.

C. Model Latihan Inkuiri

Inkuiri didefinisikan sebagai proses mencari kebenaran, maklumat atau pengetahuan melalui kaedah persoalan. Proses inkuiri bermula dengan pengumpulan maklumat melalui indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa dan bau (Whet School & Disney Learning Partnership, 2000). • Inkuiri didefinisikan sebagai teknik penyoalan mengenai sesuatu perkara dan mencari jawaban kepada persooalan yang diutarakan. Ia melibatkan pemerhatian dan pengukuran yang teliti, membuat hipotesis, menterjemahkan dan membina teori

Model latihan inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang dikembangkan oleh J.Richard Suchman sejak tahun 1962 (Joyce et al, 1992: 200). Penerapan model latihan inkuiri ini bertujuan untuk menumbuhkan keberanian siswa mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan kepada orang lain. Untuk menumbuhkan sikap berani tentunya akan banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah pengalaman hidupnya, pengetahuan serta kesannya terhadap obyek sikap seperti yang dikemukakan oleh Bolla (Siswoyo, 2000) bahwa latar belakang budaya menyebabkan siswa tidak terbiasa mengajukan pertanyaan padahal pertanyaan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengemukakan gagasannya. Gagasan-gagasan pada siswa akan muncul bila dalam proses belajar mengajar dimana guru menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa belajar kreatif. Hal ini tentunya kembali kepada seberapa besar kreativitas guru untuk dapat menggabungkan kepentingan target kurikulum dan sekaligus mengembangkan sikap dan kreativtas siswa sehingga berani bertanya dan mengemukakan gagasannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Suchman (Rowe, 1978: 363) bahwa pembelajaran siswa terletak pada asumsi bahwa belajar akan berlanjut pada tingkat yang lebih tinggi dan suatu kompleksitas jika siswa selalu bertanya. Penerapan model latihan inkuiri ini memungkinkan siswa untuk memikirkan sebanyak mungkin pertanyaan dan tentunya akan menunjang rasa ingin tahu siswa.
Dalam Inquiry Techniques for Teaching Science , yang ditulis oleh William D. Romey (1968: 257) memaparkan bahwa menurut Arthur Costa ada tiga teori metode inkuiri yang masing-masing didefinisikan oleh J. Richard Suchman, Ben Strasser dan Alphoretta Fish. Dari ketiga teori tersebut, dipilih model latihan inkuiri yang dikembangkan oleh J.Richard Suchman. Menurut Richard Suchman, inkuiri dirancang agar siswa dapat langsung mengontrol sendiri pembelajarannya. Guru hanya menyediakan kondisi yang seperti biasanya, mengatur prosesnya, mengatur kegiatan belajar mengajar dan membantu siswa dalam mengevaluasi kemajuannya. Jadi guru hanya sebagai fasilitator dan siswa bertindak sebagai  programer.
Latihan Inkuiri dikembangkan oleh J.Richard Suchman untuk membelajarkan siswa tentang suatu proses untuk menginvestigasi dan menjelaskan fenomena yang tidak biasa. (Joyce et al, 1992: 199). Model ini dirancang untuk melatih siswa dalam suatu penelitian ilmiah sehingga diharapkan dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin tahu dalam diri siswa, menumbuh kembangkan kemampuan intelektual dalam berfikir induktif, kemampuan meneliti, kemampuan berargumentasi dan kemampuan mengembangkan teori. Prinsip penting pada model latihan inkuiri (Joyce et al: 1992) adalah memastikan agar pertanyaan yang diajukan oleh siswa dapat dijawab dengan ya atau tidak oleh guru dan sama sekali tidak meminta guru untuk melakukan penyelidikan. Menurut Suchman (Rowe, 1978:363) tujuan mengharuskan siswa mengajukan pertanyaan yang hanya akan dijawab oleh guru dengan ya atau tidak adalah untuk membelajarkan siswa tentang bagaimana cara (1) mengajukan pertanyaan yang terarah dan tidak kabur, (2) menyusun informasi untuk mendukung kesimpulan (sementara), (3) menganalisis suatu situasi dalam menyelesaikan hubungan antar variabel.

 

METODE

A. Prosedur Penelitian

a.  Setting penelitian

Subyek penelitian adalah siswa model mata kuliah Pengembangan Program Pembelajaran Fisika dengan jumlah 13 siswa.

b.      Variabel yang Diteliti:

1.      Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan saat pembelajaran.

2.      Keaktifan siswa dalam mengemukakan gagasan atau pendapat.

3.      Respon siswa

c.         Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Guru

Guru adalah salah satu sumber informasi yang diperlukan dalam penelitian, maka peneliti melakukan pengambilan informasi dari guru dengan teknik observasi. Observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai keadaan subyek yang meliputi kegiatan / cara guru mengajar fisika di kelas.

2.      Siswa

Informasi yang diambil dari siswa adalah 3 aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif yang diperoleh dari pengamatan pada saat proses pembelajaran berlangsung.

d.        Rencana Tindakan

Membuat Instrumen penelitian berupa skenario pembelajaran, Tes hasil belajar, angket awal dan respon, serta pedoman observasi.

 

PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

A. Temuan pada Observasi awal

Berdasarkan observasi pada tanggal 3 November 2010 ada beberapa hal yang ditemukan oleh peneliti antara lain sebagai berikut:

1.      Rendahnya motivasi belajar siswa yang dapat dilihat dari kepasifan siswa dalam pembelajaran di kelas, siswa kurang berani mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan dalam pikirannya.

2.      Siswa jarang bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahami atau hal lainnya yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

3.      Siswa masih banyak yang berbicara dengan temannya dalam pembelajaran, siswa kurang bersemangat dan terlihat bosan dalam belajar.

4.      Pola pembelajarannya yang diterapkan cenderung berpusat pada guru dimana siswa kurang berkesempatan umtuk mengembangkan kreativitas dan belum terlibat secara langsung dalam pembelajaran.

Melalui kegiatan obsevasi awal ini ditemukan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru sering menggunakan metode ceramah dengan fokus guru yang aktif dalam pembelajaran. Strategi dan metode pembelajaran inilah yang sangat berpengaruh terhadap partisipasi siswa. Siswa kurang senang dengan metode ceramah yang digunakan guru karena membuat mereka mengantuk dan bosan apabila berlama-lama mendengarkan penjelasan guru. Hal ini pula yang menyebabkan siswa kurang antusias dalam pembelajaran dan enggan untuk mengajukan pertanyaan kepada guru. Keengganan inilah yang menyebabkan rendahnya kemampuan bertanya siswa sehingga siswa kurang memahami materi pelajaran. Hal ini berdampak negatif bagi pencapaian prestasi belajar siswa.

B. Analisis dan Refleksi Terhadap Observasi Awal

Berdasarkan temuan yang dipeeroleh dari observasi awal, maka dapat dilakukan analisis dan refleksi terhadap temuan tersebut untuk memperbaiki kegiatan belajar dan mengajar. Analisi dan refleksi tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Diharapkan siswa mengalami sendiri apa yang mereka pelajari sehingga siswa akan lebih termotivasi dan lebih paham bila materi yang akan diberikan terintegrasi dalam lingkungan sekitarnya.

2.      Sebaiknya pola pembelajaran terpusat pada siswa, sehingga akan meningkatkan kreativitas dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Siswa diberikan kebebasan mengeluakan ide atau gagasan, diskusi, dan bereksperimen sehingga dpat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.

3.      Sebaiknya metode pembelajaran fisika divariasi sehingga siswa tidak merasa bosan. Pembelajaran dapat dilakukan dengan melakukan diskusi, praktikum dan pengamatan secara langsung pada objek yang akan dipelajari sehingga pembelajaran akan terpusat pada siswa.

Model latihan inkuiri dirancang untuk melatih siswa sehingga diharapkan dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin tahu dalam diri siswa, menumbuh kembangkan kemampuan intelektual dalam berfikir induktif, kemampuan meneliti, kemampuan berargumentasi dan kemampuan mengembangkan teori. Sesuai dengan pendapat Mulyasa (2002:240), bahwa tanya jawab yang berlangsung selama pembelajaran didorong oleh inkuiri (ingin tahu) para siswa. Keberanian bertanya dan gagasan-gagasan pada siswa akan muncul bila dalam proses belajar mengajar dimana guru menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa belajar kreatif. Hal ini tentunya kembali kepada seberapa besar kreativitas guru untuk dapat menggabungkan kepentingan target kurikulum dan sekaligus mengembangkan sikap dan kreativtas siswa sehingga berani bertanya dan mengemukakan gagasannya. Penerapan model latihan inkuiri ini memungkinkan siswa untuk memikirkan sebanyak mungkin pertanyaan dan tentunya akan menunjang rasa ingin tahu siswa.

Dalam model pembelajaran inkuiri guru mesti mampu menciptakan kelas sebagai laboratorium demokrasi, supaya pelajar terlatih dan terbiasa berbeda pendapat. Peranan guru dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai fasilitator, mediator, director-motivator, dan evaluator. Sebagai fasilitator seorang guru mesti memiliki sikap-sikap sebagai berikut (Roger dalam Djahiri, 1980) :

1) Mampu menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan,

2) Membantu dan mendorong pelajar untuk mengungkapkan dan menjelaskan keinginan dan pembicaraannya baik secara individual maupun kumpulan,

3) Membantu kegiatan-kegiatan dan me-nyediakan sumber atau peralatan serta membantu kelancaran belajar mereka,

4) Membina siswa agar setiap orang merupakan sumber yang bermanfaat bagi yang lainnya,

5) Menjelaskan tujuan kegiatan pada kelompok dan mengatur penyebaran dalam bertukar pendapat.

Sebagai mediator, guru berperan sebagai penghubung dalam menjembatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang dibahas melalui pembelajaran koperatif dengan permasalahan yang nyata ditemukan di lapangan. Peranan ini sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) yaitu istilah yang dikemukakan oleh Ausubel untuk menunjukan bahan yang dipelajari memiliki kaitan makna dan wawasan dengan apa yang sudah dimiliki oleh siswa sehingga mengubah apa yang menjadi milik siswa. (Hasan, 1996).

Disamping itu juga, guru berperan dalam menyediakan sarana pembelajaran, agar suasana belajar tidak monoton dan membosankan. Dengan kreativitasnya, guru dapat mengatasi keterbatasan sarana sehingga tidak menghambat suasana pembelajaran di kelas.

Sebagai Director-Motivator, Peran ini sangat penting karena mampu membantu kelancaran diskusi kumpulan, Guru berperan dalam membimbing serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi tapi tidak memberikan jawaban.

Disamping itu sebagai motivator guru berperan sebagai pemberi semangat pada siswa untuk aktif berpartisipasi. Peran ini sangat pentng dalam rangka memberikan semangat dan dorongan belajar kepada siswa dalam mengembangkan keberanian siswa baik dalam mengembangkan keahlian dalam bekerjasama yang meliputi mendengarkan dengan seksama, mengembangkan rasa empati. maupun berkomunikasi saat bertanya, mengemukakan pendapat atau menyampaikan permasalahannya.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Bertanya adalah cara untuk mengungkapakan rasa keingintahuan akan jawaban yang tidak atau belum diketahui. Rasa ingin tahu merupakan dorongan atau rangsangan yang efektif untuk belajar dan mencari jawaban. Kegiatan bertanya di kelas adalah aktivitas yang penting dalam proses belajar mengajar. Bukan hanya bagi guru, namun juga bagi para siswa. Aktivitas di kelas adalah pertanda bahwa kegiatan belajar mengajar di dalam kelas itu ada. Di lain pihak menurut Rustaman (2002:7) bahwa sekalipun guru-guru mengakui bahwa mendorong siswa untuk bertanya merupakan sesuatu yang berharga bagi proses belajar siswa, tetapi banyak guru yang berpendapat bahwa hal itu hanya akan menimbulkan masalah bagi guru sehingga budaya bertanya jarang diciptakan dan dikembangkan di kelas. Model latihan inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang dikembangkan oleh J.Richard Suchman sejak tahun 1962 (Joyce et al, 1992: 200). Penerapan model latihan inkuiri ini bertujuan untuk menumbuhkan keberanian siswa mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan kepada orang lain. Keberanian bertanya saat pembelajaran dan gagasan-gagasan pada siswa akan muncul bila dalam proses belajar mengajar dimana guru menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa belajar kreatif. Hal ini tentunya kembali kepada seberapa besar kreativitas guru untuk dapat menggabungkan kepentingan target kurikulum dan sekaligus mengembangkan sikap dan kreativtas siswa sehingga berani bertanya dan mengemukakan gagasannya. Dalam hal ini bertujuan agar menciptakan sistem pembelajaran Student Centre Learning, dimana siswa yang aktif di dalam kelas sedangkan guru menjadi fasilitator, bukan pemegang kekuasaan penuh atas kelas.

 

Daftar Pustaka

Mulyasa, E.(2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosda Karya

Dahar, R.W. (1978) Metodologi Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika. IKIP Bandung.

Dahar, R.W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01b9/55f8dc7e.dir/doc.pdf  20.06.2010_13.35

About these ads

Januari 13, 2011 - Posted by | Pembelajaran |

1 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Kak bolehkah saya mengcopy karya tulis kakak sebagai suber atau acuan saya dalam membuat tugas KTI dari sekolah ?
    Sebelumnya terimakasih ^_^

    Komentar oleh Reza Umar Fauzi | April 22, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: